Sabtu, 19 Juli 2014

Budaya Jawa Timur

Wilayah kebudayaan Jawa Timur yaitu Jawa Mataraman, Jawa Panaragan, Arek, Samin (Sedulu Sikep), Tengger, Osing (Using), Pandalungan, Madura Pulau, Madura Bawean, dan Madura Kangean. Kesepuluh wilayah tersebut tentu memiliki keunikan tersendiri, corak budaya yang berbeda dan kearifan lokal yang akan membangun Jawa Timur menjadi salah satu dari sekian ribu kawasan di Indonesia yang sangat eksotis, serta membangun masyarakat Indonesia yang lebih baik dan bermartabat.
Wilayah kebudayaan Jawa Mataraman memiliki corak kebudayaan yang hamper sama dengan yang ada di wilayah Yogyakarta dan Surakarta atau corak kebudayaan dari Kerajaan Mataram. Pola kehidupan masyarakatnya juga sangat mencerminkan kehidupan masyarakat jawa mataram. Bahasa yang digunakan masyarakat wilayah ini juga sangat mataram, walaupun tingkat kehalusan berbeda dengan masyarakat yang ada di Yogyakarta dan Surakarta, namun pada dasarnya mereka memiliki satu garis leluhur yang sama. Cara bercocok tanam dan sistem sosial masyarakat jawa mataraman juga tidak jauh beda dengan wilayah mataram di jawa tengah. Begitu pula dengan selera kesenian yang sangat bercorak mataram, banyak jenis kesenian seperti ketoprak, wayang purwa, campur sari, tayub, wayang orang, dan berbagai tari yang berkait dengan keraton seperti tari Bedoyo Keraton. Wilayah yang tercakup dalam Jawa Mataraman yaitu masyarakat yang tinggal di wilayah Kabupaten Ngawi, Kabupaten dan Kota Madiun, Kabupaten Pacitan, Kabupaten Magetan, Kabupaten dan Kota Kediri, Kabupaten Nganjuk, Kabupaten Tulungagung, Kabupaten dan Kota Blitar, Kabupaten Trenggalek, Kabupaten Tuban, Kabupaten Lamongan, dan Kabupaten Bojonegoro. Namun masih perlu dipertanyakan jika Lamongan dan Bojonegoro termasuk dalam wilayah kebudayaan ini, karena dari segi bahasa menurut saya sangat berbeda. Ini semua masih butuh penelitian yang lebih lanjut agar dapat dipastikan cakupan wilayah kebudayaan Jawa Mataraman.
Wilayah Jawa Panaragan merupakan masyarakat daerah Ponorogo. Wilayah kebudayaan disini secara cultural terkenal dengan masyarakat yang sangat menghormati tokoh-tokoh formal yang mereka kenal sebagai pangreh praja, tetapi tokoh-tokoh seperti warok dan ulama juga menjadi tokoh penting dalam masyarakat Panarangan. Jenis kesenian wilayah ini sangat terkenal di Indonesia bahkan dunia, serta sempat diklaim sebagai kebudayaan sebuah negara di Asia yang secara garis kebudayaan memang masih serumpun yaitu melayu. Jenis kesenian tersebut yaitu Reog Ponorogo, juga beberapa kesenian lain seperti lukisan kaca dan tayub ponorogo. Pada wilayah ini juga masih butuh penelitian lebih lanjut, mengapa daerah ini tidak masuk dalam wilayah Jawa Mataraman? Melihat kondisi geografis wilayah ini diapit oleh daerah dengan kebudayaan Jawa Mataraman, seperti Pacitan, Magetan, Madiun, dan Kediri.
Wilayah Arek merupakan wilayah kebudayaan yang cukup dikenal dan dapat dikatakan sebagai ciri khas Jawa Timur. Masyarakat wilayah ini dikenal memiliki semangat juang yang tinggi, terbuka terhadap perubahan masa, dan mudah beradaptasi. Bondo nekat menjadi ciri khas komunitas ini. Perilaku tersebut bisa sangat positif hingga munculnya sifat patrotik ya sangat luar biasa, namun bisa menjadi sangat destruktif apabila tidak ada kontrol dari masyarakat itu sendiri. Surabaya dan Malang menjadi pusat kebudayaan Arek. Kedua kota besar ini menjadi pusat kebudayaan Arek karena kondisi sosial masyarakatnya yang begitu komplek dan heterogen, bisa dikatakan menjadi pusat bidang pendidikan, ekonomi, dan parawisata di Jawa Timur. Terutama pada kota Surabaya yang menjadi tempat yang nyaman bagi segala kebudayaan yang datang bersinggah di Jawa Timur. Kesenian tradisional (rakyat) yang banyak berkembang di sini adalah Ludruk, Srimulat, wayang purwa Jawa Timuran (Wayang Jek Dong), wayang Potehi (pengaruh kesenian China), Tayub, tari jaranan, dan berbagai kesenian bercoral Islam seperti dibaan, terbangan, dan sebagainya. Sikap keterbukaan, egalitarian, dan solidaritas yang tinggi membuat semua jenis kesenian bisa hidup di wilayah ini seni rupa berbagai jenis, gaya, dan aliran mampu berkembang pesat di wilayah kebudayaan Arek, begitu juga dengan seni kontemporer, sastra, tari, dan teater yang menjadi warna tersendiri pada kebudayaan Jawa Timur. Wilayah kebudayaan Arek meliputi Surabaya, Malang, Mojokerjo, Gresik, Sidoarjo.
Wilayah kebudayaan Samin merupakan wilayah dengan populasi yang semakin sedikit keberadaannya. Masyarakat Samin sangat unik, mereka paling anti dengan yang namanya penjajahan dan bersikap jujur merupakan harga mati bagi mereka. Masyarakat komunitas Samin menganggap manusia yang baik adalah manusia yang kata dan perbuatannya sama. Wilayah kebudayaan Samin berpusat di Blora Jawa Tengah, namun persebarannya hinggi mencakup Jawa Timur, yaitu Bojonegoro. Wilayah ini masih butuh banyak penelitian-penelitian yang lebih akurat, karena melihat kondisinya yang semakin tersingkir oleh jaman, sudah sepatutnya kita turut menjaga dan melestarikan wilayah ini sebagai warisan leluhur yang tentu sangat bermanfaat untuk membangun Indonesia dan Jawa Timur pada khususnya.
Wilayah kebudayaan Madura pulau dikenal sebagai komunitas dengan keuletan dan ketangguhannya. Jiwa penjelajahnya begitu terkenal hampir serupa dengan masyarkat bugis dan minangkabau. Kondisi tanah yang kurang subur menyebabkan mereka harus melakukan tindakan lain selain bertani. Garam menjadi komoditi utama masyarakat Madura dalam bidang perekonomian. Agama Islam menjadi hal yang paling mendasari mereka dalam bertindak dan bersikap. Seperti halnya Ponorogo, kiai menjadi tokoh yang sangat berpengaruh dalam masyarakat. Sistem pendidikan pesantren semakin membuat tokoh agama seperti kiai ini sangat berperan dalam segala bidang kehidupan masyarakat Madura. Kesenian yang berkembang di wilayah ini banyak diwarnai nilai Islam. Mulai dari tari Zafin, Sandur, Dibaan, Topeng Dalang (di Sumenep), dan sebagainya. Karya sastra bernuansa Islam juga sangat mewarnai kebudayaan masyarakat Madura. D. Zawawi Imron merupakan kiai sekaligus maestro sastra Indonesia juga berasal dari pulau garam ini. Bahasa Madura memiliki keunikan tersendiri di Jawa Timur. Ragam Bahasa Madura sangat berbeda dengan apa yang ada kebanyakan di Jawa Timur. Masyarakat kebudayaan ini juga berhubungan dengan masyarakat Madura Bawean dan Kangean yang pada dasarnya merupakan kebudayaan Madura, namun memiliki perbedaan diantara mereka, yang itu masih perlu penelusuran lebih lanjut.
Wilayah kebudayaan Pandalungan merupakan masyarakat yang tinggal di daerah pesisir pantai utara Jawa Timur Bagian timur, seperti Pasuruan, Probolinggo, Lumajang, Jember, Sitobondo, dan Bondowoso. Sebagian besar masyarakat wilayah ini memilih untuk bercocok tanam dan sebagai nelayan. Masyarakat wilayah ini sangat dipengaruhi oleh budaya Madura. Corak mataraman dan Pandalungan mewarnai kesenian pada wilayah ini, dengan corak keislaman yang begitu kuat dalam setiap kesenian yang ditawarkan. Ada hal unik dalam kebahasaan masyarakat Pandalungan, apabila kita bertemu dengan kawan yang berasal dari Pandalungan kita akan mengira mereka adalah orang Madura, terlihat dari bahasa mereka, padahal mereka bukan orang Madura, bahasa mereka lebih condong ke bahasa jawa, namun dengan dialek Madura yang sangat kuat. Merekapun tidak mau disebut orang Madura, karena mereka punya kebudayaan tersendiri, walaupun masih mendekati kesamaan dengan wilayah Madura.
Wilayah kebudayaan Osing merupakan wilayah yang cukup khas di Jawa Timur. Terletak di daerah kabupaten Banyuwangi, terutama di wilayah yang berdekatan dengan Bali. Masyarakat Osing begitu rajin dalam hal pertanian dan memiliki bakat seni yang luar biasa. Kesenian masyarakat ini perpaduan budaya Jawa dan Bali, serta pengaruh Pandalungan juga begitu terlihat karena mobilitas sosial wilayah ini juga berhubungan dengan wilayah Pandalungan. Wilayah masyarakat Osing ada kesenian Gandrung Banyuwangi yang begitu terkenal di Jawa Timur, sekaligus Indonesia pada umumnya, lalu Kentrung, dan Burdah (Gembrung).
Wilayah kebudayaan Tengger mencakup wilayah Tengger Bromo, Probolinggo. Masyarakat ini sangat terkenal dengan tradisinya yang masih sangat terjaga. Nilai-nilai kerajaan Majapahit masih sangat melekat dalam tiap tindakan masyarakat Tengger. Animisme dan Hindu juga tetap hidup dalam wilayah ini. Ucapara Kasada merupakan ritual adat yang paling terkenal di masyarakat Tengger. Bertani dan menikmati hasil hutan merupakan objek bergantungnya kehidupan masyarakat Tengger. Wilayah ini juga merupakan objek wisata yang sangat dirindukan oleh banyak wisatawan lokal dan asing.
Itulah kesepuluh wilayah kebudayaan Jawa Timur yang masing-masing memiliki cira khas dan keunikan tersendiri yang tentunya dapat kita manfaatkan untuk kehidupan kita sehari-hari. Data di atas jauh dari kata sempurna, namun data tersebut bisa sedikit memberikan gambaran kepada kita apa itu Jawa Timur. Penelitian-penelitian kebudayaan masih sangat dibutuhkan untuk mengungkap segalanya tentang Budaya Jawa Timur. Indonesia begitu kaya dengan segala kearifan lokalnya yang seharusnya bisa membuat bangsa ini menjadi negara super power tentunya bukan karena militernya seperti halnya Amerika, juga bukan karena perekonomiannya seperti China, apalagi perpolitikannya, Indonesia negara adidhaya dengan senjata Budaya.

Sabtu, 08 Maret 2014

Penulisan Kreatif Pengalaman Pribadi Bahasa Jawa



“Kapusan”
By. Nastiti Puji Rahayu
Pengalaman menika kula lampahi nalika kula lan kanca-kanca jurusan Sastra Daerah 2011 ngawontenaken Kuliah Kerja Lapangan (KKL) wonten ing Yogyakarta. Kula lan rombongan bidhal saking kampus UNS jam 7 enjing lan dumugi Yogyakarta wetawis jam 10 enjing. Panggenan sepindah ingkang dipunkunjungi inggih menika Kraton Kasultanan Yogyakarta. Kraton Kasultanan Yogyakarta ketawis sae, edi lan ngremenaken. Saksampunipun saking kraton, panggenan ingkang dipunkunjungi inggih menika Balai Pelestarian Nilai Budaya (BNPB). Wonten BNPB kathah naskah-naskah Jawi ingkang dipunrumati kanthi sae. Saklajengipun, saksampunipun saking BNPB rombongan Sastra Daerah 2011 nerusaken lampah dhateng Pantai Baru. Kula lan rombongan nelasaken wekdal ngantos sonten ing Pantai Baru. Saksampunipun panggenanan ingkang pungkasan kita tuju inggih menika Malioboro.
Pengalaman ingkang boten saged kula lalekaken inggih menika nalika wonten Malioboro. Saksampunipun dumugi parkiran bis, kanca-kanca langsung mandhap bis lan mlampah tumuju Malioboro. Ananging kula lan sekawan kanca kula boten langsung mlampah sareng kanca-kanca lentunipun amargi taksih badhe dhateng toilet. Saksampunipun saking toilet kula lan sekawan kanca kula kalawau mlampah nutututi kanca-kanca ingkang sampun rumiyin tumuju Malioboro. Wonten ing tengah perjalanan kula lan kanca-kanca dipun tawani kaliyan tukang becak. Tukang becak kasebat badhe ngeteraken dhateng Malioboro kanthi ongkos 5 ewu rupiah. Kula lan kanca-kanca nampi tawaran tukang becak menika amargi kangge mempersingkat wekdal. Nalika nitih becak, tukang becak taken badhe mandhap panggenan Bakpia menapa panggenan rasukan, kula lan kanca-kanca mangsuli menawi tujuan kita menika dhateng Malioboro. Pancen kula lan kanca-kanca boten mangertos lan boten apal kaliyan dalanan Yogyakarta.
Sansaya dangu dalanan kang dipunliwati sansaya sepi, kula lan kanca-kanca bisik-bisik bingung. Ingkang dipunmangertosi Malioboro menika rame ananging menika kok malah sepi nyenyet. Nalika dumugi ing toko sandangan Dagadu lan sakpiturutipun tukang becak mandek lan ngendika menawi sampun dumugi papan panggenanipun. Kula lan kanca-kanca bingung amargi menika sanes Malioboro. Tukang becak ngendika malih bilih menawi Malioboro tasih tebih, lan barang-barang ingkang wonten Malioboro asalipun saking ngriki dados wonten ngriki reginipun luwih mirah ketimbang wonten Malioboro. Dados sami mawon, mending blanjanipun wonten mriki tinimbang wonten Malioboro.
Kula lan kanca-kanca rumaos dipunapusi kaliyan tukang becak. Raos dongkol, mangkel, susah, campur aduk dados setunggal wonten ing saroning manah. Sanadyan ing toko-toko mriku reginipun benten kaliyan Malioboro, ananging tujuan kita sanes mriku inggih menika Malioboro. Kula lan kanca-kanca banjur nyuwun dipunteraken dhateng Malioboro. Ingkang damel anyelipun manah malih bilih tukang becak menika purun ngeteraken dhateng Malioboro menawi ongkosipun dipuntambahi 10 ewu, dados ongkosipun 15 ewu kaliyan wau. Kula lan kanca-kanca pancen pegel lan emosi sanget, raosipun pengen nesu-nesu kaliyan tukang becak. Ananging boten wonten pilihan lentu malih, purun boten purun kula lan kanca-kanca kedah nambahi ongkos becakipun. Dumugi Malioboro kula lan kanca-kanca langsung mandhap saking becak. Saking raos anyel lan dongkol kula kaliyan tukang becak, ongkosipun kula paring 20 ewu supados tukang becak punika sansaya bungah. Nalika badhe dipunsusuki kula boten purun lan langsung ngalih ngoten mawon. Kedadosan punika kula dadosaken pengalaman supados kula saged luwih ngatos-atos lan waspada menawi dolan wonten ing papan panggenan ingkang dereng kula mangertosi.

Yuwana Shop Online

Mau usaha shop online dengan harga murah kualitas OK ??
Hubungi aja 087758384456
PIN 2A43B7E2

Daftar Member Sophie Martin wilayah Solo

Ingin berbisnis dan joint di Sophie Martin ??
Bagi kamu yang ingin dan untuk wilayah Solo khususnya bisa hubungi 087758284456

Cara Daftar Member Sophie Matrin

Cara Menjadi Member

Keuntungan menjadi member Sophie Martin
1. Tidak perlu investasi dana yang cukup besar, hanya Rp60.000,- (Enam Puluh Ribu Rupiah) saja, Anda sudah bisa memulai bisnis Sophie Martin.
2. Diskon langsung sebesar 30% setiap pembelian seluruh produk Sophie Paris.
3. Keanggotaan Anda berlaku selama seumur hidup tanpa perlu registrasi atau daftar ulang setiap tahunnya.
4. Mendapatkan penghasilan bulanan.
5. Tambahan bonus dan reward setiap naik peringkat.
6. Waktu kerja yang fleksibel.
7. Dapat mengikuti training dan pelatihan pengembangan diri dengan berbagai tema.
8. Berkesempatan mendapatkan berbagai hadiah.
9. Berkesempatan wisata ke luar negeri.
10.Bisnis Sophie Paris merupakan investasi masa depan.
Syarat dan Ketentuan bergabung menjadi member Sophie Martin adalah sebagai berikut:
1. Uang sebesar Rp60.000,- untuk biaya pendaftaran.
2. Fotokopi KTP/file KTP yang sudah di scan.
3. Fotokopi halaman depan buku tabungan (yang ada keterangan no. rekeningnya)/file Buku Tabungan yang sudah di scan.
Jika syarat diatas sudah terpenuhi, anda bisa mendaftar melalui 2 cara, yaitu (pilih salah satu yang menurut Anda paling nyaman):
1. Anda bisa mendaftar melalui kami. Untuk biaya pendaftaran nanti akan dikenakan biaya tambahan untuk ongkos kirim BSK. Bisa ditransfer ke no. rekening Bank BRI dan BTN (silahkan pilih tujuan Bank yang anda inginkan).
Untuk KTP dan Halaman depan buku tabungan bisa melalui 2 cara:
a. KTP dan halaman depan buku tabungan di scan terlebih dahulu, kemudian filenya di kirim ke email kami nastiti_yuna@rocketmail.com.
b. Jika scan tidak memungkinkan, bisa menggunakan foto, dengan syarat gambar yang dihasilkan harus jelas, kemudian baru dikirim ke email kami.
2. Anda bisa datang langsung ke salah satu Business Center (BC) Sophie Martin terdekat di kota anda. Mohon konfirmasi terlebih dahulu kepada kami, kami akan memandu Anda untuk langkah selanjutnya.

Sabtu, 04 Januari 2014

DESKRIPSI NASKAH “SERAT MARDAWALAGU”



DESKRIPSI NASKAH
“SERAT MARDAWALAGU”

Deskripsi naskah adalah gambaran secara ringkas dan terperinci mengenai wujud fisik naskah maupun isi naskah dengan tujuan untuk mempermudah pengenalan terhadap naskah beserta konteks isinya. Deskripsi naskah yang dilakukan terhadap naskah yang menjadi objek penelitian ini berpedoman pada pendapat yang dikemukakan oleh Emuch Hermansoemantri (1986) yang disesuaikan dengan karakteristik naskah yang diteliti.
                Hal-hal yang diungkapkan dalam deskripsi naskah antara lain menyangkut informasi atau data mengenai: (1) judul naskah; (2) nomor kondex/punggung naskah; (3) tempat penyimpanan naskah; (4)  pengarang; (5) penyalin; (6) manggala dan kolofon; (7) ukuran naskah; (8) ukuran kertas; (9) ukuran teks; (10) halaman; (11) kondisi naskah; (12) bentuk tulisan; (13) kerapian; (14) bentuk teks; (15) cara penulisan; (16) bahan naskah; (17) ringkasan isi.
Berikut deskripsi lengkap naskah Serat Mardawalagu :
1.     JUDUL NASKAH
Naskah ini tercatat dalam katalog Girardet-Sutanto, 1983 dan Nancy K. Florida, 1996, dengan judul Serat Mardawalagu. Ketika dilakukan pengecekan langsung ke tempat penyimpanan naskah, judul terdapat pada tiga tempat :
·         Yang pertama terletak pada cover luar naskah bertuliskan “Serat Mardawalagoe”. Tetapi judul ini hanya terdapat pada kertas kecil yang menempel pada bagian kiri atas dengan tulisan ketik manual. Selain itu dalam cover juga terdapat cap berwarna biru bertuliskan “Jajasan Paheman Radya Pustaka Surakarta”.
Description: D:\2012-04-12 12.43.53.jpg
·         Yang kedua terletak pada sampul dalam yang pertama bertuliskan “Mardawalagu dengan ditulis latin menggunakan tinta merah.
Description: D:\`J4v4Niz GirL`0430.jpg
·         Yang ketiga terletak pada sampul dalam yang kedua bertuliskan ?m/fwlgu. (mardawalagu) . Judul ditulis dengan huruf Jawa seperti yang tertera.
Description: D:\`J4v4Niz GirL`0429.jpg

2.     NOMOR KODEX (PUNGGUNG) NASKAH
Pada punggung naskah terdapat nomor kodex naskah yaitu A3 dan SMP-RP-G-21 .

3.     TEMPAT PENYIMPANAN
Naskah Serat Mardawalagu ini disimpan di Perpustakaan Radyapustaka Surakarta.

4.     PENGARANG
Teks Serat Mardawalagu dikarang oleh Raden Ngabei Ranggawarsita, hal ini dapat dilihat dari kutipan halaman pertama teks Serat Mardawalagu, yaitu:
sertM/fwlgukrznHipu[nR=ogw/sit
“Serat Mardawalagu karanganipun raden ngabei Ranggawarsita”
“Serat Mardawalagu karangannya raden ngabei Ranggawarsita”

5.     PENYALIN
Naskah Serat Mardawalagu ini tidak ada penyalinnya dan masih asli.

6.     MANGGALA dan KOLOFON
Tidak ada manggala dalam naskah ini.
Kolofon ditulis dibagian belakang. Tetapi kolofon ini hanyalah sebuah tambahan karena ditulis dengan kertas dan warna tinta yang berbeda. Tulisan pada kolofon ini sangat kecil dan tidak rapi sehingga tidak mudah dibaca. Dalam katalog Nancy menyatakan bahwa naskah ini ditulis di Surakarta tetapi tidak diketahui waktu penulisannya.

7.     UKURAN NASKAH
Panjang : 33,5 cm
Lebar      : 21 cm
Tebal      : 0,5 cm


8.     UKURAN KERTAS
Panjang : 33 cm
Lebar      : 20,5 cm

9.     UKURAN TEKS
Panjang             : 24 cm
Lebar                 : 14 cm
Margin atas      : 2,5 cm
Margin bawah : 2 cm
Margin kanan  : 3 cm
Margin kiri       : 3 cm

10.                                                                                                                                                HALAMAN
Halaman ditulis dengan huruf Jawa dan terletak dibagian atas teks. Terdiri dari 21 halaman ditambah dengan 2 lembar halaman kosong, akan tetapi pada halaman terakhir (halaman 21) ditulis dengan menggunakan pensil. Setiap 1 halaman terdapat 35 baris. Pada halaman 1,10,11, dan 20 terdapat cap berwarna merah bertuliskan “P. Radio Poestaka Soerakarta 1831”.

11.                                                                                                                                                KONDISI NASKAH
Keadaan naskah secara fisik masih baik dan utuh/ lengkap, tidak ada lembaran-lembaran naskah yang hilang. Naskah ini merupakan naskah carik yang masih asli. Sampulnya masih utuh berwarna hijau, akan tetapi kertas telah berwarna putih yang telah usang dan banyak yang sudah sobek-sobek. Naskah-naskah yang sobek diberikan isolasi untuk perawatannya. Pada bagian akhir naskah terdapat tempelan kertas yang sangat rapi penempelannya. Kertas tersebut ditulis dengan menggunakan tinta bolpoint biru dan hitam.
Description: D:\2012-04-12 12.42.53.jpg                            Description: D:\2012-04-12 12.43.28.jpg

12.                        BENTUK TULISAN
Bentuk tulisan kecil, jelas dan mudah dibaca. Hurufnya berbentuk kotak (batasinambat) dan tulisannya sangat bagus. Penekanan penanya sangat tajam sehingga sampai tembus pada bagian belakangnya. Jarak antar huruf sedang tetapi jarak antar baris sangat dekat sehingga terlihat kurang teratur.

13.                        KERAPIAN
Tingkat kerapian sangatlah rapi, hampir tidak ada kesalahan dalam setiap penulisannya.

14.                        BENTUK TEKS
Serat Mardawalagu ditulis dalam bentuk prosa tentang tembang Macapat.

15.                        CARA PENULISAN
Penulisan teks pada setiap halaman ditulis secara bolak-balik, atau yang lebih dikenal dengan sistem recto verso, yaitu lembaran-lembaran naskah yang ditulisi pada kedua halaman muka dan belakang. Selain itu hanya ada satu halaman yang ditulis secara satu muka (tidak recto verso), yaitu pada halaman 21. Ditulis satu muka karena hanyalah tambahan saja. Teks ditulis ke arah lebarnya, artinya teks ditulis sejajar dengan lebar lembaran naskah, ditulis dari kiri ke kanan.



16.                        BAHAN NASKAH
Serat Mardawalagu dikemas menjadi naskah yang lumayan tipis. Kertas yang digunakan adalah kertas eropa, kertasnya berwarna kecoklatan, tebal, dan kualitasnya masih baik. Akan tetapi terdapat perbedaan jenis kertas pada halaman terakhir, halaman terakhir menggunakan kertas folio bergaris.

17.                        BAHASA NASKAH
SeratMardawalagu menggunakan bahasa Jawa.

18.                        RINGKASAN ISI
Serat Mardawalagu menjelaskan tentang persajakan dan musik-musik Jawa. Serat ini merupakan prosa yang menjelaskan catatan lagu-lagu Jawa versi sekar ageng, sekar tenggahan, dan sekar macapat. Kemudian berisi bagaimana membaca versi dari komposisi satu, dua, tiga, dan empat baris, juga cara bagaimana mengkomposisikan lagu-lagu Jawa.
Penjelasan 4 style dari versi lagu-lagu Jawa sesuai dengan nomer dari baris tiap bait (maca salagu, maca rolagu, maca tri lagu, dan maca pat lagu).